LOGO HALAL YANG MERAGUKAN


Petang tadi selepas balik dari kerja, saya meninjau-ninjau pasaraya CKS yang terletak di tepi Jalan Lintas Penampang menuju ke Donggongon.

Ketika lalu pada dereten rak-rak gandola perhatian saya terarah kepada makanan tin jenama FRIED DACE, iaitu makanan dalam tin yang dibuat daripada daging ikan campuran kacangan hitam. Didapati produk ini adalah dari Guandong, Negara China.

Saya membelek-belek tin tersebut dan mendapati LOGO HALAL yang pada pengetahuan saya merupakan Logo Halal kini tidak lagi diiktiraf. Setahu saya logo tersebut hanya sah sekitar tahun 2000-2003.

Lagi meragukan logo tersebut bukan dicetak bersama kertas tetapi hanya dilekatkan dan boleh ditanggalkan bila-bila masa.

Kepada orang ramai, berhati-hati membeli produk ini! Sila adukan kepada pihak yang bertanggungjawab sekiranya produk seumpama ini terdapat di mana-mana premis.

Fried Dace Pengguna Muslim Harus Berhati-hati

Fried Dace Pengguna Muslim Harus Berhati-hati

Masih Menggunakan Logo Halal Yang Lama

Masih Menggunakan Logo Halal Yang Lama

Sekadar Cetak Dan Lekat

Sekadar Cetak Dan Lekat

2 comments on “LOGO HALAL YANG MERAGUKAN

  1. Memang wajar kita berwaspada dalam soal makan minum.

    Lihatlah perjalanan hidup para ulama terdahulu. Mereka cukup menjaga barang yang masuk ke dalam perut mereka. Barang syuhbah dijauhi, apatah lagi barang yang haram. Hasilnya, aqal mereka sihat. Ingatan mereka kuat. Fikiran mereka tajam. Iman mereka mantap. Jiwa mereka cekal. Sabar mereka tinggi. Ibadah mereka hebat . Akhlak mereka cantik. Bahasa mereka indah. Akhirnya jadilah mereka manusia berkualiti. Salah satu penyumbang utama menjadikan mereka manusia berkualiti kerana mereka menitik beratkan keberkatan makan dan minum.

    Lihatlah natijah dari manusia berkualiti itu. Kitab-kitab karangan mereka terus menerus jadi rujukan manusia terkemudian walau ratusan tahun telah berlalu. Nama mereka terus harum semerbak walaupun manusia terkemudian tidak bertemu mereka. Merekalah manusia berkualiti.

    Lihatlah diri kita. Lihatlah di mana kedudukan kita. Lihatlah apa yang kita makan tiap hari. Lihatlah sumber makanan kita. Lihatlah duit yang kita guna untuk membeli makanan harian. Lihatlah ia datang dari mana. Lihatlah duit gaji yang kita dapat itu samada benar-benar hak kita semuanya atau ada hak manusia lain padanya.

    Lihatlah dan lihatlah wahai saudaraku..

    (Untuk maklumat lengkap mengenai syarikat-syarikat dan produk-produk halal, logo halal, sijil halal dan lain-lain yang berkaitan, sukacita saudara-saudara merujuk ke portal http://www.halal.gov.my. )

  2. Akibat Termakan yang Haram

    “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan
    Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan
    bertawakkallah kepada Allah yang kamu beriman kepada Nya.” (QS Al
    Maidah: 88)

    Memakan makanan atau mencari rezeki halal
    adalah wajib. Kalau kita memakan makanan dan menyadari bahwa makanan
    itu haram, maka kita berdosa dan hati kita akan gelap. Tetapi kalau
    makanan haram dan syubhat itu kita makan tanpa mengetahui bahwa
    benda itu haram atau syubhat, maka kita tidak berdosa tetapi hati
    kita yang dibina dari makanan itu tetap akan gelap. Rasulullah SAW
    mengingatkan: “Hati itu dibina dengan apa yang dimakan.”

    Atas dasar itulah Abu Bakar As-Siddiq RA
    mengorek kembali makanan yang ditelannya hingga muntah, setelah ia
    mengetahui makanan itu sumbernya adalah syubhat. Ia takut makanan
    itu akan membutakan hatinya. Setelah memuntahkan makanan itu, ia
    masih khawatir ada sisa makanan itu dalam perutnya. Maka, khalifah
    pertama ini berdoa: “Ya Allah, jangan Engkau bertindak kepadaku atas
    apa yang telah jadi darah dagingku.”

    Dikisahkan, seperti biasa menjelang shalat
    Maghrib Rasulullah duduk di beranda masjid mengobrol bersama
    sejumlah sahabat. Anak-anak asyik bermain sesama mereka. Sambil
    bercanda seorang anak melempar sesuatu kepada temannya. Tanpa
    sengaja benda yang dilemparkannya itu nyaris mengenai Rasulullah.
    Wajah Nabi Mulia ini agak berubah tanda kurang senang. Setelah
    berdiam sebentar, Rasulullah berkata: “Boleh jadi orangtua si anak
    itu ada termakan sesuatu yang haram.” Padahal ayah si anak itu ada
    di dalam majelis tersebut, namun Rasulullah dan para sahabat tidak
    mengetahuinya.

    Usai Shalat Maghrib, seorang lelaki menemui
    Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah! Sayalah ayah dari anak yang
    melemparkan benda tadi. Memang benar, saya pernah termakan sebiji
    kurma tanpa izin si pemiliknya.”

    Konon, puluhan tahun Abu Yazid Al Basthami
    melakukan ibadah ritual kepada Allah, namun belum merasakan lezatnya
    beribadah sebagaimana dirasakan dan diceritakan pendahulunya.
    Berbagai usaha dilakukannya. Antara lain banyak beristigfar, membaca
    Alquran, bertafakur, shalat Tahajjud, iktikaf, namun belum
    membuahkan hasil. Karena penasaran, satu waktu sufi agung ini
    menemui ibunya dan bertanya: “Wahai Ibu. Tolong Ibu ingat-ingat.
    Apakah ketika Ibu mengandung saya atau merawat dan membesarkan saya,
    Ibu pernah termakan makanan yang tidak halal?”

    Tentu saja sang Ibu kaget mendapat
    pertanyaan tidak diduga dari anaknya yang saleh ini. Setelah
    merenung sebentar, ia pun berkata: “Astagfirullah. Benar wahai
    anakku. Satu hari Ibu disuruh majikan Ibu mengantarkan sepanci bubur
    susu ke rumah seorang tetangga. Di tengah jalan Ibu melihat bubur
    susu sebesar biji nasi menempel di bibir panci itu. Merasa kepingin,
    lalu Ibu cicipi.” Tidak salah lagi, itulah penyebabnya, kata Abu
    Yazid tanpa menjelaskan masalahnya.

    Kisah lain. Ada seorang pemuda saleh dikenal
    sebagai pengusaha yang dermawan. Beberapa hari setelah wafatnya,
    seorang sahabatnya bermimpi berjumpa pemuda tersebut. Anehnya
    walaupun ia melihat kubur si pemuda itu sangat terang, luas dan
    indah, tetapi wajah pemuda itu murung. Ketika ditanya sebabnya,
    pemuda itu menjawab: “Memang tempatku terang, indah dan menarik.
    Tapi aku menyesal atas satu perbuatanku ketika di dunia.”

    Pemuda itu melanjutkan: “Suatu hari ketika
    aku bersiap-siap membuka warung dan membersihkan alat yang aku
    gunakan dalam perniagaan, datang seorang pelanggan. Aku serta merta
    menghentikan kegiatanku dan melayani pelanggan itu. Ia membeli satu
    kilo barang yang kujual. Ternyata aku berlaku tidak teliti. Tempat
    timbangan itu belum kubersihkan, masih banyak debu yang menempel di
    situ, sementara anak batu timbangan sudah kubersihkan. Jadi, berat
    barang yang ia beli berkurang seberat debu yang ada di tempat
    tersebut. Itulah yang membuat aku menyesal dan murung di sini, wahai
    sahabatku.” (Buku Membangun Ekonomi Islam oleh Syeikh Imam Ashaari
    Muhammad At-Tamimi).

    Bayangkan, bagaimana nasib kita di alam
    kubur dan akhirat kelak kalau kita dengan sengaja berlaku curang,
    menipu. Misalnya, mencampur air dan gula ke dalam madu asli agar
    volumenya bertambah; mengurangi sukatan dan timbangan; me-mark up,
    korupsi dan melakukan kejahatan lain dalam aktivitas perdagangan
    kita.

    Menurut sebuah hadist Rasulullah, kalau Umat
    Islam memakan makanan yang tidak halal baik zatnya maupun cara
    mendapatkannya maka selama 40 hari ibadah dan doa mereka tidak
    diterima Allah.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s